Birrul Walidain – Berbakti kepada Orang Tua Menuju Ridha Allah

Birrul Walidain – Berbakti kepada Orang Tua Menuju Ridha Allah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga kita masih diberi kesempatan berada di bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan kepada kita semua yang mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan kultum singkat ini, marilah kita merenungkan satu amalan yang sangat besar dalam Islam, tetapi sering kali kita anggap biasa saja, yaitu birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua.

Dalam Al-Qur’an, perintah berbakti kepada orang tua sering disebut langsung setelah perintah menyembah Allah.

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Perhatikan ayat ini.

Allah bahkan melarang kita mengucapkan kata ‘ah’ kepada orang tua. Bukan memukul, bukan memaki, bahkan sekadar mengeluh pun tidak boleh. Apalagi membentak ataupun menyakiti hati mereka.

Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dalam Islam.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Sering kali dalam kehidupan, seseorang bisa mencapai kedudukan yang tinggi.

Ada yang menjadi pemimpin perusahaan.
Ada yang menjadi pejabat.
Ada yang menjadi tokoh masyarakat.

Di kantor ia dihormati.
Di tempat kerja ia disegani.

Namun jangan sampai kita dihormati di luar rumah, tetapi kasar kepada orang tua di rumah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)

Artinya keberkahan hidup kita sering kali bukan karena jabatan kita, bukan karena harta kita, tetapi karena doa orang tua kita. Banyak orang yang hidupnya terasa sempit dan penuh masalah, padahal mungkin yang terlupakan adalah ridha orang tua.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari zaman Nabi ﷺ tentang pentingnya ridha orang tua.

Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Alqamah. Ia dikenal sebagai orang yang rajin beribadah. Ia rajin shalat, rajin puasa, dan gemar bersedekah.

Suatu hari ia sakit keras dan berada di sakaratul maut. Para sahabat datang menuntunnya membaca kalimat syahadat.

Namun anehnya, lidahnya tidak mampu mengucapkan “La ilaha illallah.”

Padahal ia orang yang dikenal saleh.

Kabar ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Nabi kemudian bertanya:

“Apakah ia masih memiliki orang tua?”

Para sahabat menjawab:
“Ya Rasulullah, ia memiliki seorang ibu.”

Ibunya dipanggil. Nabi bertanya tentang hubungan mereka.

Ibunya berkata dengan jujur:

“Ya Rasulullah, ia rajin beribadah, tetapi ia lebih mementingkan istrinya daripada ibunya, dan hatiku pernah tersakiti olehnya.”

Rasulullah ﷺ khawatir. Kemudian Nabi berkata kepada para sahabat agar mengumpulkan kayu bakar, seakan-akan Alqamah akan dibakar.

Ibunya terkejut dan berkata:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau akan membakar anakku?”

Nabi menjawab:

“Azab Allah lebih pedih daripada api ini. Jika engkau tidak meridhainya, ia bisa terhalang dari rahmat Allah.”

Mendengar itu hati sang ibu luluh, Ia berkata:

“Aku ridha kepada anakku.”

Ketika ibunya telah meridhainya, para sahabat kembali menuntunnya membaca syahadat.

Dan saat itu lidahnya langsung mampu mengucapkan:

La ilaha illallah…

Tidak lama kemudian ia wafat dalam keadaan membawa kalimat tauhid.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ridha orang tua sangat menentukan keberkahan hidup seseorang.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Saat ini kita berada di bulan Ramadhan dan sebentar lagi kita akan menyambut Idul Fitri. Hari di mana kita saling memaafkan. Namun sebelum kita meminta maaf kepada teman, tetangga, dan rekan kerja…

mintalah maaf kepada orang tua kita terlebih dahulu.

Peluk mereka, Cium tangan mereka.

Katakan dengan tulus:

“Ibu… Ayah… maafkan aku.”

Karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bersama mereka. Jika orang tua kita masih hidup, itu berarti pintu surga masih terbuka untuk kita. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jika engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah.”
(HR. Tirmidzi)

Hadirin yang dirahmati Allah,

Selagi orang tua kita masih hidup, itu berarti pintu surga masih terbuka untuk kita.

Kita masih bisa membahagiakan mereka.
Masih bisa mencium tangan mereka.
Masih bisa meminta maaf kepada mereka.

Maka jangan menunda.

Datangi mereka.
Telepon mereka.
Peluk mereka.

Katakan kepada mereka:

“Ibu… Ayah… terima kasih atas semua pengorbananmu.”
“Maafkan aku jika pernah menyakiti hatimu.”

Namun bagaimana jika orang tua kita sudah meninggal dunia?

Apakah bakti kita berhenti?

Tidak.

Dalam Islam, bakti kepada orang tua tetap bisa dilakukan meskipun mereka telah wafat.

Nabi ﷺ bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Maka jika orang tua kita telah tiada, kita masih bisa berbakti dengan beberapa cara:

Pertama, memperbanyak doa untuk mereka.

Doa seorang anak adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang tua di alam kubur.

Doa yang sangat dianjurkan adalah:

Allahumma ighfir li waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”

Kedua, bersedekah atas nama mereka.

Sedekah yang kita niatkan untuk orang tua insyaAllah akan menjadi pahala yang mengalir kepada mereka.

Ketiga, menyambung silaturahmi dengan keluarga dan sahabat mereka.

Mengunjungi saudara mereka, memuliakan teman-teman mereka, itu juga termasuk bentuk bakti kepada orang tua.

Keempat, menjaga akhlak dan kebaikan yang mereka ajarkan kepada kita.

Ketika kita menjadi anak yang saleh, itu menjadi amal jariyah bagi mereka.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Maka siapa pun kita hari ini…

Jika orang tua kita masih hidup, berbaktilah sebaik-baiknya.

Jika orang tua kita telah wafat, doakan mereka sebanyak-banyaknya.

Semoga Allah mengampuni dosa kita dan dosa kedua orang tua kita.

Mari kita tutup dengan doa:

Allahumma ighfir li waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”

Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang berbakti kepada orang tua, yang diridhai oleh mereka, dan yang kelak dipertemukan kembali dengan mereka di surga-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

*
*